Obrolan Pojokan #2 Tentang Gig Kolektif




Diskusi Pojokan kali ini adalah pembahasan tentang gigs kolektifan berdasarkan pengalaman yang pernah kami ( yang lagi ngobrol : Markoem & Robby Peluru Kendali) alami dari tahun 1997, dimana kami mengenal dunia underground dan mulai ikutan gigs, dan setau kami yang pada saat itu lagi coba-coba sok tau, kalo yang namanya kolektifan adalah di mana beberapa band patungan untuk mengadakan gigs dan bersama mereka menghitung berapa biaya yang harus di keluarkan secara transparan oleh penyelenggara dan biasanya penyelenggara diambil dari anggota salah satu band yang ikut kolektifan juga.  Apabila ada hasil dari tiket, untung atau rugi akan di bagikan rata atau kembalikan pada band yang patungan tersebut, apabila penyelenggara tidak memungut tiket, maka para band yang patungan itu sudah siap dan memang sudah tau biaya yang mereka keluarkan untuk gigs tersebut tidak akan kembali, karena pas-pasan hanya cukup untuk bayar tempat dan alat saja, yang penting semua senang.

Kolektifan di ambil dari kata dasar kolektif yang artinya secara bersama atau secara gabungan.  Sebelum adanya kolektifan, banyak penyelenggara gigs underground mengunakan sistem audisi, jadi band yang ingin tampil harus bayar biaya audisi dan di seleksi oleh penyelenggara, buruknya banyak konspirasi yang terjadi, yang lolos audisi hanya kalangan teman-teman penyelenggara saja, yang akhirnya menimbulkan kekecewaan walaupun tidak semua penyelenggara seperti itu, dan akhirnya munculah “fuck audisi” dan konsep kolektifan yang lebih fair dan nyaman buat band-band untuk tampil.
Tetapi saat ini banyak gigs yang mengatasnakamakan kolektifan, karena setelah dana terkumpul oleh penyelenggara, mereka tidak transparan dalam membeberkan hasil yang mereka dapat, apakah ada keuntungan atau kerugian, padahal penyelenggara memungut biaya tiket.
Ada lagi gigs dari komunitas yg mengatasnamakan Event Organizer underground gak jelas, mereka membuat gigs dengan mengundang band yang sudah terkenal di kalangan underground, lalu mereka menarik band-band lain untuk kolektifan dengan harga tertentu dengan spesifikasi harga kaya menu di restoran. 

Guest Star : nominal paling gede, bisa milih jam maen jam brp aja, bisa datang telat tapi tetep di utamain.
Featuring : nominal sedeng-sedeng aja, bisa milih jam juga di spare waktu tertentu, klo datang telat cuman di cemberutin. 
Registrasi : nominal rata-rata, kaga bisa milih jam, terus kadang di kasih maen pagi klo datang telat band di coret kaga bisa maen.

Nah, sudah di kenakan spesifikasi di atas band juga harus menjual tiket dengan jumlah yang di tentukan penyelenggara (share tiket).

Ada banyak juga yang bikin gigs dari band tertentu dengan konsep lounching album atau showcase, tapi mereka menarik band-band yang ingin berpartisipasi dengan cara kolektifan berembel embel suport, tetapi memang tidak di pungkiri banyak peminatnya.

Hal tersebut diatas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak kami, apakah sampai seperti itukah kehausan akan gigs dari para band-band underground??? , dan konsepsi seperti apa gigs kolektifan underground itu sebenarnya???, dan sebenarnya kami pun masih bingung dengan fenomena ini...

Mari kita jadikan gigs kolektifan seperti konsep awal lagi, saling menghargai dengan kejujuran apa adanya.

Markoem & Robby Peluru Kendali

Video Clip Ayo Kawan